Selasa, 24 April 2012

SEJARAH PERADAPAN ISLAM



MAKALAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM
Tentang
ISLAM DI ANDALUSIA

Di Susun Oleh : Kelompok I


Marjohan Hadidi         : 409.253
Ahmad Syaifullah       :  409.129
          Jukas                         : 409. 065
Yulfan Efendi                409.340



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada pemerintahan Bani Umaiyah islam telah menyebar di berbagai Negara, termasuk di Andalusia (yang sekarang di kenal dengan Spanyol)
Dalam bab ini akan di jelaskan proses masuknya Islam ke Andalusia, yang meliputi :
1.      Perkembangan politk
2.      Gerakan pembebasan
3.      Masa keamiran
4.      Masa kekhalifahan
B.     Tujuan
Di samping kita mengetahui sejarah masuknya islam ke Andalusia dan perkembangannya, juga kita dapat mengetahui perjuangan umat islam dalam menyebarkan ajaran agama islam.
Juga di harapkan kepada kita, agar dapat mengambil hikmah dari perjuangan umat islam terdahulu dalam menyebarkan syariat hingga sampai kepada kita.




 BAB II
PEMBAHASAN

ISLAM DI ANDALUSIA

Sebelum kedatangan umat Islam, daerah Iberia merupakan kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth. Pada tahun 711 M, pasukan Umayyah yang sebagian besar merupakan bangsa Moor dari Afrika Barat Laut, menyerbu Hispania dipimpin jenderal Tariq bin Ziyad, dan dibawah perintah dari Kekhalifahan Umayyah di Damaskus.
Pasukan ini mendarat di Gibraltar pada 30 April, dan terus menuju utara. Setelah mengalahkan Raja Roderic dari Visigoth dalam Pertempuran Guadalete ( 711 M ), kekuasaan Islam terus berkembang hingga pada tahun 719 M. Hanya daerah Galicia, Basque dan Asturias yang tidak tunduk kepada kekuasaan Islam. Setelah itu, pasukan Islam menyeberangi Pirenia untuk menaklukkan Perancis, namun berhasil dihentikan oleh kaum Frank dalam pertempuran Tours (732 M). Daerah yang dikuasai Muslim Umayyah ini disebut provinsi Al-Andalus, terdiri dari Spanyol, Portugal dan Perancis bagian selatan yang disebut sekarang.
A. Perkembangan Politik
Pada awalnya, Al-Andalus dikuasai oleh seorang wali Yusuf Al-Fihri (gubernur) yang ditunjuk oleh Khalifah di Damaskus, dengan masa jabatan biasanya 3 tahun. Namun pada tahun 740an M, terjadi perang saudara yang menyebabkan melemahnya kekuasaan Khalifah. Dan pada tahun 746 M, Yusuf Al-Fihri memenangkan perang saudara tersebut, menjadi seorang penguasa yang tidak terikat kepada pemerintahan di Damaskus.
Pada tahun 750 M, bani Abbasiyah menjatuhkan pemerintahan Umayyah di Damaskus, dan merebut kekuasaan atas daerah-daerah Arabia. Namun pada tahun 756 M, Abdurrahman I (Ad-Dakhil) melengserkan Yusuf Al-Fihri, dan menjadi penguasa Kordoba dengan gelar Amir Kordoba. Abdurrahman menolak untuk tunduk kepada kekhalifahan Abbasiyah yang baru terbentuk, karena pasukan Abbasiyah telah membunuh sebagian besar keluarganya.
Ia memerintah selama 30 tahun, namun memiliki kekuasaan yang lemah di Al-Andalus dan ia berusaha menekan perlawanan dari pendukung Al-Fihri maupun khalifah Abbasiyah.
Selama satu setengah abad berikutnya, keturunannya menggantikannya sebagai Amir Kordoba, yang memiliki kekuasaan tertulis atas seluruh Al-Andalus bahkan kadang-kadang meliputi Afrika Utara bagian barat. Pada kenyataannya, kekuasaan Amir Kordoba, terutama di daerah yang berbatasan dengan kaum Kristen, sering mengalami naik-turun politik, itu tergantung kecakapan dari sang Amir yang sedang berkuasa. Amir Abdullah bin Muhammad bahkan hanya memiliki kekuasaan atas Kordoba saja.
Cucu Abdullah, Abdurrahman III, menggantikannya pada tahun 912 M, dan dengan cepat mengembalikan kekuasaan Umayyah atas Al-Andalus dan bahkan Afrika Utara bagian barat. Pada tahun 929 M ia mengangkat dirinya sebagai Khalifah, sehingga keamiran ini sekarang memiliki kedudukan setara dengan kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad dan kekhalifahan Syi'ah di Tunis.
B. Masa kekhalifahan
Andalusia - Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid Rahimahullah (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana Ummat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika Utara. Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair Rahimahullahum ajma’in.
Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.

Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah.

Thariq ibn Ziyad Rahimahullah lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair Rahimahullah dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid Rahimahullah. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).
Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq Rahimahullah dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik saat itu). Sebelum Thariq Rahimahullah berhasil menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair Rahimahullah di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad Rahimahullah membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair Rahimahullah merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyeberangi selat itu, dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa Rahimahullah berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz Rahimahullah tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah Rahimahullah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman ibn Abdullah al-Ghafiqi Rahimahullah. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordreu, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, diantara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.
Sesudah itu, masih juga terdapat penyerangan-penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 743 M, dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, Majorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayah. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia. Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal.
Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Di dalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam. Berkenaan dengan itu Amer Ali, seperti dikutip oleh Imamuddin mengatakan, ketika Afrika (Timur dan Barat) menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan, tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat perlakuan yang keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakkan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum kerajaan Gothic berdiri.
Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol masih berada di bawah pemerintahan Romawi (Byzantine), berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar tanpa digarap, beberapa pabrik ditutup, dan antara satu daerah dan daerah lain sulit dilalui akibat jalan-jalan tidak mendapat perawatan.
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam. Awal kehancuran kerajaan Ghoth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin.
Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa Rahimahumullah.
Hal menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokon-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.
C. Perkembangan Peradaban
Umat Islam di Spanyol telah mencapai kejayaan yang gemilang, banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan juga dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks, terutama dalam hal kemajuan intelektual.
Dalam masa lebih dari tujuh abad kekuasaan Islam di Spanyol, umat Islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian membawa dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks.
Kemajuan Intelektual
Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir.
Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari :
- Komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan)
- Al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam)
- Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara)
- Al-Shaqalibah (tentara bayaran yang dijual Jerman kepada penguasa Islam)
- Yahudi
- Kristen Muzareb yang berbudaya Arab
- Kristen yang masih menentang kehadiran Islam
Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Andalusia - Spanyol.
1. Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M).
Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova. Ia lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayah al- Mujtahid.
2. Sains
IImu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibn al-Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol, yang kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang sains.
3. Fiqih
Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini di sana adalah Ziad ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.
4. Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan Ibn Nafi yang dijiluki Zaryab. Setiap kali diselenggarkan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimiliknya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
5. Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor duakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Aljiyah, Ibn Khuruf, Ibn al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Ghamathi. Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti Al-’Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirahji Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan, dan banyak lagi yang lain.












BIOGRAFI IMAM AT-TIRMIDZI



MAKALAH
Tentang
IMAM AT-TIRMIDZI
Diajukan untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah arrijalul hadits





Disusun oleh :
Kelompok 8
Khoiruddin                 409 .436
Nofriadi                      409 .172
Sakban                       409 .181
Sri Ayu Sartika Sari    409 .238

Di Revisi oleh kelompok VII

Marjohan Hadidi         490.253
Pasma Yendra             409.252
Mairisa                        409.

Dosen pembimbing :
Dr. ZULHELDI, M.Ag

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI-A)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
IMAM BONJOL PADANG
1431 H / 2010 M
BAB I
PENDAHULUAN

Hadits merupakan sumber hukum kedua di dalam sumber hukum islam. Hadits tersebut disampaikan secara mutawatir oleh orang yang di sebut ar rijalul hadits atau tokoh tokoh hadits. Diantara rijalul hadits hadits itu adalah Imam At Tirmidzi. Beliau merupakan salah seorang tokaoh yang terkenal dalam tokoh tokoh hadits.  
Di dalam makalah ini, pemakalah akan mencoba menguraikan beberapa hal yang bersangkutan dengan Imam At-Tirmidzi. Diantaranya :

1.      Nama dan tempat lahir
2.      Masa belajar, guru – guru, dan murid – muridnya
3.      Penghargaan ulama terhadap imam Al-Tirmidzi
4.      Hasil karya imam Al-Tirmidzi
5.      Wafat imam Al-Tirmidzi

BAB II
PEMBAHASAN

A.      NAMA DAN TEMPAT LAHIR DAN SIFAT-SIFATNYA
Imam Al-Tirmidzi nama lengkapnya adalah Abu Musa Muhammad Ibn Isa Ibn Saurah Ibn Musa Ibn Adh-Dhahak Al-Sulami Al-Bughi Al-Tirmidzi Al-Imam Al-Alim Al-Bari’[1]. Al Sulami dibangsakan dengan Bani Sulaym, dari kabilah ‘Aylan, sedangkan Al Bughi adalah nama desa tempat Al Imam lahir dan wafat, yaitu di Bugh. Ahmad Muhammad Syakir menambahnya dengan sebutan Al-Dhahir karena ia mengalami kebutaan di masa tuanya[2]. Imam Al-Tirmidzi terkenal dengan sebutan Abu Isa , tepi sebagian ulama tidak menyenangi sebutan itu karena hadis
ان عيس  لا اب له
Artinya “sesungguhnya Isa tidak mempunyai bapak.”

Imam Al-Tirmidzi dilahirkan di tepi selatan sungai Jihun, Usbekistan, di kota Tirmidz. Para penulis tidak menyebutkan secara pasti kapan Imam Al-Tirmidzi dilahirkan. Menurut Syaykh Muhammad ‘Abd Al Hadi Al Sindi Imam Al-Tirmidzi dilahirkan pada tahun 209 H[3]. Al Shalah Al Safadi menyebutkan bahwa Imam Al-Tirmidzi dilahirkan tahun 200 H. ada yang mentatakan beliau lahir pada tahun 208 H  dan tahun 209 H. kota tirmiz menurut penduduknya diucapkan dengan bacaan tarmidz .
Sifat-Sifatnya : Para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa Imam At-Tirmidzi lahir dalam keadaan buta. Sedangkan berita yang benar adalah dia menjadi buta ketika sudah besar, tepatnya setelah melakukan perjalanan mencari ilmu dan menulis kitabnya.[4]


B.       MASA BELAJAR, GURU – GURU, DAN MURID – MURIDNYA
Perkembangan hadits itu di tandai dengan penulisan, penyampaian penerimaan, penghafalan, dan majlis ta’lim pengkajian hadits, penciptaan ilmu hadits, periwayatan, dan pembukuannya. Kajian pengembangan hadits itu sebagian telah diikuti oleh Imam Al-Tirmidzi sebagian besar telah dilakukannya dan berperan aktif, mulai dari menulis, menghafal, menyampaikan, menerima, menghadiri dan mengadakan majlis ta’lim, menggambarkan ilmu hadits,meriwayatkan dan sampai dengan pembukuan.
Sebagai mana ulama hadits lain Imam Al-Tirmidzi sejak kecil sudah bergelut dengan hadits, Semangatnya dalam belajar hadits membuatnya melalangbuana ke berbagai negeri untuk berguru kepada ulama ahli hadits terkemuka. Imam Al-Tirmidzi pernah ke Hijaz dan belajar dengan ulama Hijaz Iraq, Khurasan belajar dan menuntut ilmu dari Ishaq Ibn Rahawayh, dan sebagainya. Menurut Al Khatib Al Baghdadi Qutaibah Ibn Sa’id Al-Madani lama Imam Al-Tirmidzi belajar hadits diperkirakan lebih dari 35 tahun.[5]

Diantara guru Imam Al-Tirmidzi adalah :
1.      Al Bukhari
2.      Imam Muslim
3.      Abu Daud
4.      Qutaibah Bin Sa’id
5.      Ishaq Bin Musa
6.      Mahmud Bin Ghailan
7.      Ibn Bandar
8.      ismail bin Musa Al-Fazari
9.      Ahmad bin Muni’
10.  Abu Mush’ab Az-Zuhri
11.  Bisyr bin Muazd Al-Aqadi
12.  Al-Hasan bin Ahmad Bin Abi Syuaib
13.  Abu Amar Al-Husain bin Huraits[6]

Diantara orang – orang yang pernah berguru ( murid ) kepada beliau adalah :
1.      Makhlul Bin Fadlal
2.      Muhammad Bin Mahmud Anbar
3.      Hammad Bin Syakir
4.      Abdul Bin Muhammad An-Nasyifun
5.      Al Haisam Bin Kulaib Asy- Syasyi
6.      Abu Bakar Ahmad Ibn Ismail Ibn Amir Al Samarkandi
7.      Ahmad Bin Ali Al Maqari
As-Dzahabi berkata : Murid-murid At-Tirmdzi Antara lain adalah ;
1.      Abu-bakar bin Ismail Samarkandi
2.      Abu-Hamid Ahmad bin Abdillah bin Daud Al Marwazi
3.      Ahmad bin Ali bin Hasnawaih Al-Mukqri’
4.      Ahmad bin Yusuf An Nasafi
5.      Ashad bin Hamdawiyah Annafi
6.      Al Husain yusuf Al-Farbari
7.      Hammad bin Syakir Al Warq
8.      Daud bin Nashr bin Suhail Al-Bazdawi[7]


C.      PENGHARGAAN ULAMA TERHADAP IMAM AL-TIRMIDZI
Perhatian beliau sangat besar terhadan ilmu hadits sangat besar beliau menyusun kitab At Turmudzi. Selain itu hasil-hasil karya beliau sangat banyak. Sehingga pujian para ulama  terhadap Imam Al-Tirmidzi dalam usahanya mengembangkan hadits dan fiqih dan ilmu-ilmu agama sangat banyak, diantaranya adalah :
1.      Pernyataan Imam Bukhari terhadap Imam At Turmudzi bahwa kedudukan beliau dalam ilmu hadits adalah sangat tinggi. Imam Bukhari berkata “ Apa yang aku ambil manfaat dari padaku.[8]
2.      Al Hafizh Al Alim Al Idrisi berkata “ ia (Imam Al-Tirmidzi) seorang dari para imam yang memberi tuntunan kepada mereka dalam ilmu hadits, mengarang Al Jami’ Tarikh, sebagai seorang penulis yang alim yang meyakinkan, ia seorang contoh dalam hafalan”
3.      Al Mizzi mengatakan bahwa Imam Al-Tirmidzi salah seorang imam hafizh yang mempunyai kelebihan yang telah dimanfaatkan kaum muslimin.
4.      Mubarak Ibn Atsir mengatakan bahwa Imam Al-Tirmidzi adalah seorang ulama hafizh yang terkenal, padanya   telah terjadi pembangunan fiqih.
5.      Imam Al-Tirmidzi termasuk ahli hadits yang kuat daya hafalnya, teliti serta terpercaya. Ibnu Hibban Al Busti mengakui kemampuan Imam Al-Tirmidzi dalam hal menghafal, menghimpun, dan meneliti hadits sehingga ia menjadi sumber pengambilan hadit banyak ulama terkenal diantaranya imam bukhari[9]

D.      HASIL KARYA IMAM AL-TIRMIDZI
Imam Al-Tirmidzi  adalah sorang penulis yang terkenal Diantara karya-karya Imam Al-Tirmidzi adalah :
1.    Al Jami’ yang terkenal dengan Sunan Imam Al-Tirmidzi yang menghimpun 3.956 buah hadits. [10]
di dalam kitab Sunan atau Al Jami’ At-Tirmidsi, ia mengklasifikasikan kualitas hadits menjadi shahiah, hasan, dan da’if. Buku inilah yang menjadi sumber utama hadits hasan[11].
Kitab ini mempunyai ciri khas yaitu adanya pembahasan tentang rijal hadits dan isnad, adanya penyampaian pendapat imam mazhab dan diantaranya dilengkapi dengan penjelasannya, Imam Al-Tirmidzi juga menjelaskan perselisihan pendapat mazhab kemuadian mencoba memilihnya dengan menggunakan dasar hadits yang dikuasainya.
2.    Al-‘Illat
3.    Asy Syama’il Wa Al Kuna
4.    At-Tarikh
5.    Az-Zuhud

E.     Contoh Hadits
Contoh hadits yang diriwayat oleh Imam Al-Tirmidzi adalah :
وخلفه في بعض مغا زيه فقا له علي يا ر سول الله تخلفني مع النساء والصبيا فقا ل رسو ل  الله صلي الله عليه وسلم : ا ما تر ضي ان تكون مني بمنز لة هارون من موس الا انه لا نبوة بعد ى.


Artinya : “Dan meninggalkan Nabi Muhammad Saw. Akan ia(Saidina ‘Ali Kw) di salah satu perperangan, maka berkata ‘Ali kepada Nabi : kenapakah tuan tinggalkan saya di kampong bersama wanita dan anak-anak ?
Nabi menjawab : Hai  ‘Ali, apakah engkau tidak suka bahwa engkau sama dengan Nabi Harun di banding Nabi Musa ? tetapi awas! Nabi dan kenabian tidak ada lagi sesudah aku.”
(Sahih Tirmidzi, jilid XIII, pagina 171)

Keterangan :  Hadits ini mengisahkan  ketika nabi hendak pergi ke perperangan Tabuk pada tahun 9 hijriyah, yang mana ketika itu beliau meninggalkan Saidina ‘Ali di madinah untuk menjaga ahli family Nabi.
Saidina ‘Ali Kw. Agak marah karena tidak pantas seorang pahlawan yang gagah berani seperti Ia di tinggalkan hanya untuk menjaga wanita dan anak-anak, yang dapat di kerjakan oleh orang-orang lemah dan tidak kuat.
Nabi mengatakan kepada Saidina ‘Ali,sebagai pembujuknya, bahwa derajatnya sama dengan Nabi Harun disbanding Nabi Musa, karena Nabi Harun di tinggalkan oleh Nabi Musa di kampong ketika beliau pergi munajat ke bukit Thursina.
Tetapi menegaskan kesamaannya dengan nabi Harun bukanlah dalam kenabian, karena Nabi dan kenabian tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad Saw.
Dari hadits ini dapat dapat dipetik hukum-hukum yaitu :
1.      Nabi tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad Saw.
2.      Nabi dan kenabian tidak lagi.
3.      Faham yang mengatakan bahwa Mirza Gulam Ahmad di Anggap Nabi, adalah salah dan sesat, menentang hadits ini.
4.      Faham dari sebagian kaum Syi’ah yang mengatakan bahwa Saidina ‘Ali sebagai Imam mereka masih menerima wahyu dari tuhan adalah faham yang salah pula.[12]


F.       WAFAT IMAM AL-TIRMIDZI
Imam Al-Tirmidzi wafat pada tahun 279 H dalam usia 70 tahun. Beliau wafat pada bulan Rajab tanggal 13 tahun 279 malam hari senin. Beliau meninggal di desa al Bugh dan dimakankan di sana. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa beliau wafat tahun 277 H dalam usia 68 tahun.
Namun ada yang mengatakan bahwa Imam Al-Tirmidzi lahir dan wafat di kota tirmidz. Hal itu tidaklah salah, karena bigh dan tirmdz itu berdekatan dan bugh merupakan sebagian dari kota tirmidz.



BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Imam Al-Tirmidzi nama lengkapnya adalah abu musa Muhammad ibn isa ibn tsawrah ibn musa ibn al-dhahak al-sulami al-bughi al-tirmidzi. Dilahirkan di kota tirmiz tahun 209 dan wafat tahun 279 H.
Diantara guru Imam Al-Tirmidzi adalah : Al Bukhari, Imam muslim, abu daud, Qutaibah bin sa’id, Ishaq bin musa, Mahmud bin ghailan
Diantara orang – orang yang pernah berguru kepada beliau adalah :
1.      Makhlul bin fadlal
2.      Muhammad bin Mahmud anbar
3.      Hammad bin syakir
4.      Abdul bin Muhammad an-nasyifun
5.      Al haisam bin kulaib asy- syasyi
Imam Al-Tirmidzi  adalah sorang penulis yang terkenal Diantara karya-karya Imam Al-Tirmidzi adalah :
1.      Al Jami’ yang terkenal dengan sunan Imam Al-Tirmidziyang menghimpun 3.956 buah hadits.
2.      Al-‘Illat
3.      Asy syama’il wa al kuna
4.      At-Tarikh
5.      Az-Zuhud

B.       KRITIK DAN SARAN
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dari makalah ini karena penulis seorang yang lemah dan keterbatasan sumber yang di dapat. Oleh kerena itu penulis mengharapkan kepada semua pihak untuk memberikan kritikan dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.



[1]Syaik Ahmad Farid, 60 Biografi ulama salaf,Penejemah : Masturi Irham Lc. Dan Asmu’I Taman, Lc.cet 1 Jakarta : Pustaka Al-Kautsar 2006 hal.550
[2] DrR. H. ahmad Sutarmadi, al-iman al-tirmidzi peranannya dalam pengembangan hadits dan fiqih,ciputat, PT logos wacana ilmu, 1998, hal 49
[3] Abid , DrR. H. ahmad Sutarmadi, hal 51
[4] Syaik Ahmad Farid, 60 Biografi ulama salaf,Penejemah : Masturi Irham Lc. Dan Asmu’I Taman, Lc.cet 1 Jakarta : Pustaka Al-Kautsar 2006 hal.550
[5]Ibnu ahmad ‘alimi, tokoh dan ulama hadits, sidoarjo, mumtaz,2008, hal 216
[6] Syaik Ahmad Farid, 60 Biografi ulama salaf,Penejemah : Masturi Irham Lc. Dan Asmu’I Taman, Lc.cet 1 Jakarta : Pustaka Al-Kautsar 2006 hal 563
[7] Ibid hal  564
[8] Dr. Mustafa Zahri. Kunci memahami Mustalahul Hadits. PT Bina Ilmu, Jl tanjungan 53-e  : Surabaya. Cet II 1995
[9]Abdul aziz dahlan,  ensiklopedi hukum islam, jakarta PT ichtiar baru van hoeve 1997
[10]M. natsir arsyad, seputar al quran hadits dan ilmu, bandung, al bayan,1995 hal 82
[11] Dr. H Abdul Majid Khon, M.Ag, ulumul hadits, Jakarta, amzah, 2008 hal 263
[12] K.H. Siradjuddin ‘Abbas, 40 masalah agama jilid II, pustaka Tarbiyah : Jakarta, 2006. Hal 77